Pasang

Tradisi Tunangan Bagi Masyarakat Madura

  • Bagikan
Tradisi Tunangan Bagi Masyarakat Madura
Sepasang kekasih mengikat hubungan dengan pertunangan (Foto: bowbei.com)

BUDAYA, SINERGI MADURA – Bentuk dari salah satu kekayaan banyak ragam tradisi Orang Madura yang sampai saat ini masih terus berkembang dan berjalan normal di tengah masyarakat adalah tradisi abhakalan atau bertunangan.

Proses awal dari tradisi Abhakalan dimulai dari Nyaba’ Ngin-angin (memasang kabar). Dalam proses ini pihak calon mempelai laki-laki memasang kabar kepada pihak keluarga si perempuan apakah gadis yang akan dilamar nanti sudah memiliki calon atau belum.

Pasang

Pada proses ini biasanya pihak laki-laki meminta bantuan orang lain yang disebut pangada’ menurut istilah Madura. Pangada’ ini adalah orang yang dipercaya untuk bertamu ke rumah dan bertemu dengan keluarga si gadis.

Pangada’ bisa dari tetangga, tokoh masyarakat bahkan paman atau keluarga dari pihak laki-laki. Pangada’ biasanya sedikit tahu seputar keluarga si gadis. Sekaligus harus bisa dipercaya oleh kedua belah pihak.

Jika calon mempelai laki-laki belum tahu atau kenal terhadap calon mempelai perempuan, sebelum nyaba’ ngin-angin, si laki-laki diarahkan untuk melihat si perempuan terlebih dahulu.

Baca Juga: Inilah Kisah 4 Situs Keramat Penjaga Pulau Gili Labak Sumenep Madura

Dalam istilah Islam disebut ta’aruf. Pangada’ bersama calon mempelai laki-laki akan bertamu ke rumah si perempuan untuk melihat paras wajahnya.

Tujuannya tidak hanya untuk melihat paras si gadis saja, melainkan juga sekaligus mengenal silsilah keluarga dan lingkungan sekitar lewat obrolan santai dengan orang tua sang gadis. Atas dasar itu nanti si laki-laki dapat membuat dasar pertimbangan akan lanjut melamar atau tidak.

Kemudian bila sudah dirasa cocok, maka dilakukanlah proses nyaba’ ngin-angin untuk kemudian dilamar.

Jika dalam proses nyaba’ ngin-angin ini diperoleh informasi bahwa si gadis belum memiliki calon atau pasangan, maka bisa masuk pada langkah berikutnya yaitu proses lamaran atau tunangan.

Sebelum masuk pada proses lamaran atau pertunangan, pangada’ ini biasanya akan menyampaikan bahwa ia akan kembali untuk menetapkan tanggal lamaran dalam istilah Madura disebut nyaba’ gheddhang.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *