Pasang

UNEJ Nilai KIHT di Pamekasan Sudah Layak Dibangun

  • Bagikan
KOKOH: Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Pamekasan (Ainur Rizky - Sinergi Pamekasan)

PAMEKASAN, SINERGI MADURA – Universitas Jember menilai Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur sudah layak untuk dilanjutkan ke tahap pembangunan.

Meski pembangunan KIHT ini awalnya sempat molor, namun seiring berjalannya waktu sudah mulai dikerjakan kembali sesuai dengan jadwal.

Pasang

“Molor sedikit karena terkendala PPKM, di kantor WFH namun masih sesuai jadwal. Dan pembangunan KIHT ini diawali dengan studi kelayakan untuk menentukan layak atau tidaknya pembangunan KIHT,” terang Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Pamekasan, Achmad Sjaifuddin, Jumat (30/7/2021).

Menurut dia, UNEJ telah melakukan kajian soal kelayakan pembangunan KIHT beberapa waktu lalu dan juga telah menjalin kerjasama baik untuk pengembangannya ke depan.

“Awal juli lalu, tim dari Universitas Jember sudah memaparkan hasil penelitian dan kajiannya dan secara keseluruhan pembangunan KIHT dikatakan layak,” ungkapnya.

“Ada dua hal yang dikaji yaitu aspek investasi dan aspek manajemen sosial, hukum, lingkungan, pasar dan teknis. Saat ini masih dalam proses penyusunan masterplan,” sambungnya.

Untuk itu, pada tahun 2021 ini pihaknya telah merencanakan pembangunan infrastruktur dasar seperti pemadatan lokasi drainase, pagar dan sebagainya.

“Direncanakan pada tahun 2022 dibangun pabrik, tempat mesin, laboratorium, kantor, dan sebagainya dengan syarat ekonomi kita membaik,” simpulnya.

Sekadar informasi, Pemkab Pamekasan saat ini merencanakan akan membangun Kawasan Industri Hasil Tembakau untuk menekan penyebaran rokok ilegal dengan anggaran sebesar Rp7,5 M dan berasal dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

“Dengan KIHT banyak manfaatnya, pertama bisa meminimalkan produksi rokok ilegal, dan kedua bisa menyerap tembakau Madura lebih banyak. Ketiga adalah untuk peningkatan cukai dan keempat yaitu peningkatan perekonomian daerah,” tutup Achmad Sjaifuddin. (adv)


(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *