Pasang

Warga Madura Wajib Tahu, Inilah 5 Karomah Syaikhona Holil Bangkalan

  • Bagikan
BERKHARISMA: Syaikhona Holil Bangkalan Madura (Foto: Madureh.com)
BERKHARISMA: Syaikhona Holil Bangkalan Madura (Foto: Madureh.com)

BUDAYA, SINERGI MADURA – Pasti tidak asing didengar oleh warga Indonesia, khususnya bagi masyarakat Madura dan warga Nahdlatul Ulama (NU) tentang sosok kiai serta ulama karismatik yakni Syaikhona Holil Bangkalan atau biasa dikenal Mbah Holil Bangkalan.

Syaikhona Holil Bin H Abdul Latif, lahir di Kemayoran Bangkalan dan wafat serta dimakamkan di Martajasah Bangkalan , sampai saat ini makam tersebut masih banyak dikunjungi oleh para peziarah.

Pasang

Berikut 5 karomah dan kisah Syaikhona Holil Bangkalan dirangkum sinergimadura, dari berbagai sumber.

1. Tertawa Keras Saat Salat

Saat masih di pesantren, sewaktu salat Syaikhona Holil tertawa keras, kemudian beliau ditegur oleh imam yang tak lain adalah kiai di pesantren tersebut. Namun tetap saja Kiai Holil masih tertawa.

Se saat kemudian, Syaikhona Holil menjawab bahwa dirinya tertawa karena melihat sejenis ‘berkat’ atau akrab disebut makanan di atas kepala sang kiai saat menjadi imam.

Kemudian sang kiai sadar bahwa saat menjadi imam, dirinya tidak khusuk dan tergesa-gesa dalam salatnya.

Baca Juga: Menengok Tradisi Perayaan Maulid Nabi di Madura

2. Debat Kepiting dan Rajungan

Debat di Masjidil Haram Mekah berlangsung tentang hukum halal dan haram soal kepiting dan rajungan. Meski berlangsung lama, debat itu tak kunjung menemukan solusi.

Akhirnya Syaikhona Holil ikut berpendapat tiba-tiba ulama yang satu ini sudah memegang kepiting dan rajungan yang basah, semua peserta debat kaget melihat keanehan itu, sebab secara seketika mendapat kepiting dan rajungan dalam waktu sekejap. Dari kejadian tersebut perdebatan mendapat solusi, kemudian Syaikhona Holil menjadi ulama yang disegani.

3. Ke Mekah Naik Krocok

Di sore hari di Pantai Bangkalan, Syaikhona Holil yang ditemani Kiai Samsul Arifin membicarakan soal pesantren hingga lupa kalau waktu salat asar akan habis. Kemudian Syaikhona Holil kaget dan meminta Kiai Samsul Arifin untuk mengambil krocok lalu menumpanginya.

Sesaat kemudian, Kiai Holil menatap ke Mekah dan tanpa terasa krocok yang ditumpangi kedua ulama ini melesat cepat dan sampai di kota kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Saat tiba di sana, ternyata azan asar baru dikumandangkan. Selanjutnya, kedua ulama ini langsung merapatkan saf untuk salat di urutan pertama.

Baca Juga: 5 Wisata Religi di Madura yang Wajib Anda Kunjungi

4. Mengubah Arah Kiblat Masjid

Suatu hari, Syaikhona Holil melihat menantunya Kiai Muntaha sedang membangun masjid, kemudian beliau meminta menantunya untuk membetulkan arah masjid tersebut.

Kiai Muntaha mengungkapkan pendapatnya soal arah kiblat di hadapan sang guru alim ulama ini. Dengan tersenyum, Mbah Holil mendekat ke arah dinding masjid lalu melubanginya kemudian menyuruh Kiai Muntaha untuk melihat lubang tersebut.

Alhasil, betapa kagetnya sang menantu, saat dirinya secara langsung dapat menyaksikan Ka’bah. Dengan begitu Kiai Muntaha sadar kalau arah kiblat yang dibuatnya salah, kemudian ia mengubahnya dan menjadikan arah kiblat sesuai dengan petunjuk yang dilubangi oleh Mbah Holil.

5. Membelah Diri

Syaikhona Holil bisa berada di suatu tempat secara bersamaan. Cerita ini berawal saat Mbah Holil mengajar di pesantrennya, sewaktu berceramah Mbah Holil pakaian Mbah Holil tiba-tiba basah. Saat itu santrinya bingung sebab pakaian sang guru basah.

Melihat santrinya begitu, Mbah Holil akhirnya mengganti pakaiannya yang basah kuyup. Sesaat kemudian, tiba-tiba datang seorang nelayan dengan maksud mau sowan ke Mbah Holil.

Selanjutnya, si nelayan itu mengucapkan terima kasih kepada Mbah Holil atas pertolongan saat dirinya mau tenggelam di tengah laut. Seketika itu, para santri sadar bahwa Mbah Holil ternyata mampu membelah diri.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *